Teks Khutbah Jum’at Untuk Masjid-Masjid
di Lingkungan PT. PAMA PERSADA, Site KPC Sangatta
Khutbah : Jum’at Ketiga
Tanggal : 13, Sya’ban 1442 H / 26 Maret 2021 M
Tema : “TIGA MOMENTUM DI BULAN SYA’BAN”
Jama’ah Jum’at yang berbahagia
Di hari mulia ini, kembali kita mengingatkan diri kita semua, agar senantiasa berusaha untuk mentaati segala
perintah Allah dan menjauhi segala larangan. Demikian itulah arti sebenarnya bertaqwa kepada Allah, Swt.
Kurang lebih 2 minggu lagi, kita memasuki bulan suci Ramandan, dan Jum’at ke-2 di bulan Sya’ban ini, masih
dalam suasana mempersiapkan kedatangannya. Bahkan bulan Sya’ban, yang dikatakan oleh Rasulullah,
sebagai bulan “yang sering dilupakan” amal-amalan dan keutamaannya oleh kebanyakan manusia, di mana
ada tiga momentum yang harus kita. Tiga momentum (atau peristiwa pemicu) untuk mendorang kita untuk
beramal lebih baik dari sebelumnya.
Jama’ah Jum’at yang berbahagia
TIGA MOMENTUM tersebut adalah:
1. Bulan Sya’ban adalah Bulan Pemindahan Kiblat dan Terpenuhi-nya Harapan Nabi, SAW.:
Selama kurang lebih enam hingga tujuh belas bulan setelah Hijrah ke Madinah, Rasulullah, Saw. sangat
mengharap kepada Allah agar kiblat dipindahkan ke arah Ka’bah di Mekah. Beliau dengan harap-harap cemas
tanpa berkata-kata sering mendongak ke langit berharap kepada Allah akan hal itu.
Sebagaimana Mujahid bin Jabir, ahli tafsir dari kalangan Tabiin, weriwayatkan bahwa Rasulullah, saw. pernah
menyatakan keinginannya itu kepada Jibril, as. Kata Jibril: “Saya hanyalah hamba Allah seperti-mu, namun
kamu punya kedudukan istimewa di sisi Allah, maka mohonlah kepada-Nya akan hal itu.” Setelah itu, beliau
selalu memandang ke arah langit, dengan harapan Jibril kembali dengan membawa berita perubahan arah
kiblat yang beliau rindukan itu. Sehingga pada bulan Sya’ban, setelah 17 bulan dari Hijrah beliau ke Madinah,
turunlah ayat ini:
) قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهَِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهََكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ …)البقرة: 411
“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu
ke kiblat yang kamu sukai. Maka, palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. (al-Baqarah: 144)
Kepindahan arah kiblat ini sempat menimbulkan kegemparan di kalangan kaum Yahudi Madinah, menuduh
Muhammad tidak konsisten terhadap ajarannya, dan berbagai tuduhan lainnya. Namun perubahan ini adalah
keputusan Allah, untuk menguji siapa yang sungguh-sungguh mengikuti kebenaran atau mengikuti hawa
nafsunya semata-mata. Allah, SWT. berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهََا ا لَّأ لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِ بيْهِ …
“Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui siapa
yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.” (al-Baqarah: 144)
Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah bahwa beragama itu tidaklah harus sesuai dengan apa yang kita
inginkan, namun kita harus bisa menyesuaikan apa yang diinginkan oleh agama kita. Keinginan kita tidak
selamanya baik untuk kita, tapi keinginan Allah melalui syariat agama-Nya pasti baik untuk diri kita. Tinggal kita
yang harus bersabar menjalaninya sehingga kita mendapatkan hikmahnya pada waktunya nanti. Sebagaimana
Allah, SWt. berfirman:
وَعَسَىٰ اَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ اَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَاَن تمْ لَأ تَعْلَمُونَ
“Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu sedangkan ia adalah kebaikan bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu dan ia adalah kebaikan bagi kalian, dan Allah megetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (al-Baqrah: 216)
Jama’ah Jum’at yang berbahagia
2. Bulan Sya’ban Momentum Penyempurnaan Amal Sebelum Ramadan
Para sahabat senantiasa memperhatikan ibadah dan muamalah yang dilakukan oleh Rasulullah, saw. Di antaranya adalah bagaimana ibadah puasa beliau, baik wajib mau pun sunnah agar mereka bisa belajar. Maka Usamah bin Zaid, ra. bertanya tentang puasa di bulan Sya’ban: “Ya Rasulallah, kenapa aku tidak melihat-mu berpuasa sebulan seperti yang Engkau lakukan di bulan Sya’ban?” (Maksudhnya, kenapa beliau tidak berpuasa sunnah sebanyak yang dilakukannya di bulan Sya’ban sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat ‘Aisyah, ra.?)
Maka beliau menjawabnya dengan bersabda (yang artinya): “Itu adalah bulan – antara Rajab dan Ramadan -- di mana manusia banyak yang melalaikannya (karena hanya fokus beribadah pada dua bulan tersebut), sedangkan ia (bulan Sya’ban itu) adalah bulan di mana segala amal (baik dan buruk selama setahun) di angkat ke hadirat Tuhan semesta alam. Maka aku ingin ketika amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (Hr. An-Nasaa’iy)
Menurut Ibnu Rajab al-Hambali, makna sabda Rasulullah, » شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَ نه « / “bulan di mana manusia sering melaikannya” menunjukkan bahwa menghidupkan waktu-waktu seperti itu untuk ibadah dan ketaatan itu sangat disukai oleh Allah. Sedangkan menurut Imam Nawawi, waktu seperti itu disebut sebagai waktu “haraj”, yaitu waktu fitnah dan membingungkan manusia. Sebab banyaknya keutamaan beribadah di dalam dua bulan Rajab dan Ramadan membuat manusia bingung untuk melakukan ibadah apakah yang tepat untuk bulan Sya’ban. Maka Rasulullah, mengajarkan kita agar berfokus untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Maka beliau bersabda:
"فاُحِبُّ ا ن يُرفَعَ عَمَ لي وا نَا صَ ا ئِمٌ"
“Maka aku suka jika ketika amalku diangkat kepada Allah sedangkan aku dalam keaadaan berpuasa.” (Hr. An-Nasaa’iy)
Jika bulan Sya’ban disebut sebagai waktu Haraj (waktu yang membingungkan dan membuat banyak manusia melalaikannya), maka beramal kebaikan dan ketaan di dalamnya pahalanya sangat besar. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Muslim dari Ma’qil bin Yasar, ra. Rasulullah, saw. bersabda:
" ا لْعِ بادَ ة في ا لْهََرْجِ كَهَِجْرَةٍ ا لَيَّ "
“Beribadah di masa haraj itu seperti berhijarah kepada-ku.” (Hr. Muslim)
Terbukti bahwa bulan Sya’ban ini adalah waktu haraj – seperti pendapat Imam Nawawi di atas – banyak orang yang baru sadar bahwa ini sudah dekat bulan Ramadan. Terutamanya banyak yang kaget ternyata puasa ramadannya yang kemarin putus karena sakit belum diqada’, istrinya yang belum bayar fidyah atau berpuasa qada’ karena hamil dan menyusui terus, juga lupa belum dibayar dan dilaksanakan. Hutang piutang yang belum dilunasi, sementara sudah ada yang bisa dibayarkan juga belum diselesaikan. Kesalahan kepada sesama saudaranya juga belum minta maaf dan belum saling memaafkan.
Sehingga jangan samapi ketika amal kita diangkat ke harimbaan Allah, masih ada kekurangannya. Maka marilah di bulan Sya’ban ini, kesempatan terakhir sebelum penutupan buku amal setahun kita diangkat dan dilaporkan kehadirat-Nya masih menyisakan tanggungan dan kekurangan. Mari kita sempurnakan sebisa mungkin kekurangan-kekurangan puasa kita, sholat kita, zakat dan urusan utang piutang kita.
Jama’ah Jum’at yang berbahagia
3. Bulan Sya’ban Momentum untuk Memicu Peningkatan Amal Kebaikan
Sebagai bulan terakhir dalam setahun untuk penutupan buku catatan amal, maka bulan Sya’ban juga sebagai momentum pemicu amal kebaikan setahun ke depan. Ibnu Rajab dalam bait-bait syairnya berpesan:
مَضَى رَجَبٌ وَمَا اَحْسَنْتَ فِيهِ *** وَهَذَا شَهَْرُ شَعْبَانَ المُبَارَكْ
Telah berlalu bulan Rajab dan Engkau belum memaksimalkannya
Dan ini adalah bulan Sya’ban yang diberkati
فَيَا مَنْ ضَيَّعَ الأَوْقَاتَ جَهَْلاً *** بِحُرْمَتِهََا اَفِقْ وَاحْذَرْ بَوَارَكْ
Wahai orang yang menyia-nyiakan waktunya,
sadar dan ingatlah terhadap kebinasaanmu!
فَسَوْفَ تُفَارِقُ اللَّذَّاتِ قَسْرًا *** وَيُخْلِي المَوْتُ كُرْهًا مِنْكَ دَارَكْ
Engkau akan dipaksa meninggalkan segala kelezatan
Suka atau tidak, Kematian akan mengosongkan rumahmu
تَدَارَكْ مَا اسْتَطَعْتَ مِنَ الخَطَايَا *** بِتَوْبَةِ مُخْلِصٍ وَاجْعَ لْ مَدَارَكْ
Oleh itu, tutupilah semampu dayamu kesalahan-mu
dengan bertaubat secara murni dan jadikanlah jalan
عَلَى طَلَبِ السَّلاَمَةِ مِنْ جَحِيمٍ *** فَخَيْرُ ذَوِي الجَرَائِمِ مَنْ تَدَارَكْ
untuk mencari kesalamatan dari (azab) neraka Jahim
Maka sebaik-baik orang yang bersalah adalah
Yang memperbaiki kesalahannya.
Sebab itu sambutlah seruan keselamatan dan pengampunan Allah dengan segera. Sebagaimana firman-Nya:
(dalam surat Ali-Imran : 133-136)
وَسَارِعُوا ا لَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهََا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa * (Qs. Ali Imran: 133)
Dari sekarang marilah kita memiliki kualitas dan sifat-sifat orang-orang yang bertaqwa, yaitu:
1. Suka berinfaq dalam keadaan senang atau susah, menahan marah dan bisa memaafkan orang lain
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّ راءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. ** (Qs. Ali Imran: 134)
2. Jika melakukan perbuatan keji dan zhalim segera memohon ampunan kepada Allah dan tidak terus menerus melakukan kesalahan yang sama.
وَالَّذِينَ ا ذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوا اَنفُسَهَُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهَِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ ا لَّأ ال لَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا
فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ "
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. *** (Qs. Ali Imran: 135)
Orang yang bersifat dengan sifat-sifat tersebut pahalanya adalah pengampunan dari Tuhan dan Taman-taman surga sebagai balasan bagi orang-orang yang benar-benar beramal. Allah berfirman:
اُولََٰئِكَ جَزَاؤُهُم مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهَِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهََا الْأَنْهََارُ خَالِدِينَ فِيهََا وَنِعْمَ اجْرُ الْعَامِلِينَ
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Qs. Ali Imran: 136)